Langsung ke konten utama
Al-Qur'an Shahih li Kulli Zaman wa Makan
(Sebuah Muqadimah Kajian Al-Qur'an)

Guru kami Syaikh Manna Al-Qaththan di dalam kitabnya "Mabahits fii Ulumil Qur'an" menyampaikan; Di antara kemurahan Allah terhadap manusia, adalah bahwa Dia tidak saja menganugerahkan fitrah yang suci yang dapat membimbingnya kepada kebaikan, bahkan dari masa ke masa mengutus seorang rasul yang membawa kitab sebagai pedoman hidup dari Allah, mengajak manusia agar beribadah hanya kepada-Nya semata. menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah datangnya para rasul.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Rasul-rasul (yang telah kami utus itu), semuanya membawa kabar gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pembawa peringatan (kepada orang-orang yang kafir dan yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia suatu hujah (atau alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutus rasul-rasul itu. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (An-nisa': 165)

Wahyu diturunkan senantiasa mengiringi manusia sesuai dengan perkembangan dan kemajuan berfikir manusia. Ia memberikan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh setiap kaum para Rasul. Demikianlah sehingga perkembangan itu sampai kepada masa kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam muncul di dunia ini. maka diutuslah beliau di saat manusia lama mengalami stagnasi para rasul, demi menyempurnakan bangunan para rasul yang datang sebelumnya dengan kitab yang memuat syari'at yang bersifat universal dan abadi (Shahih li Kulli Zaman wa Makan).

Erich Fromm dalam bukunya "Masyarakat yang Sehat" mengatakan; Desakan arus modernisasi dan globalisasi pada setiap dimensi kehidupan manusia harus diakui telah membawa berbagai konsekuensi yang harus ditanggung oleh peradaban modern manusia. Di samping menawarkan berbagai kenikmatan (seductive life) materiel dan fisik, modernisasi juga telah memberikan efek negatif, yaitu dislokasi kejiawaan, disorientasi kejiwaan (kehilangan pegangan hidup karena runtuhnya nilai-nilai fundamental), alienasi (keterasingan), dan deprivatisasi relatif (perasaan tersingkir).

Muhammad Al-Ghozali dalam "Al-Qur'an kitab zaman kita" telah memberikan tawaran menarik bagi kita semua terkait persoalan tersebut, yang demikian tentunya memerlukan respons dari umat Islam dan mencari solusinya. Pada sisi inilah, selayaknya umat Islam kembali mengkaji dan mengotekstualisasikan Al-Qur'an, agar nilai-nilainya dapat menjadi solusi dari persoalan kemanusiaan dan peradaban.

Wallahu A'lamu Bishawab, Semoga bermanfaat..,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ragam Karya Hasil Tanggapan Bait Nadham Alfiyah Ibnu Malik (Bagian 2)

3. as-Saalik Ila Hali Alfiyah Ibnu Malik Penulis : Burhanuddin Ibrahim Bin Muhammad bin Abi Bakr bin Ayub bi Qayim al-Jauziyah (w. 797 H). Beliau hidup pada tahun 719-767 H. Atau 1319-1365 M. Muhaqqiq : Muhammad bin ‘Iwad bin Muhammad al-Sahili. Di bawah ini adalah kutipan lengkapnya gambaran umum tentang kitab : إرشاد السالك إلى حل ألفية ابن مالك المؤلف: برهان الدين إبراهيم بن محمد بن أبي بكر بن أيوب بن قيم الجوزية (المتوفى 767 هـ) المحقق: د. محمد بن عوض بن محمد السهلي قسم من هذا الكتاب: هو أطروحة دكتوراة للمحقق الناشر: أضواء السلف - الرياض الطبعة: الأولى، 1373 هـ - 1954 م. عدد الأجزاء: 2 (في ترقيم مسلسل واحد) أعده للشاملة/ فريق رابطة النساخ برعاية (مركز النخب العلمية) [ترقيم الكتاب موافق للمطبوع]. تعريف بالمؤلف : برهان الدين ابن القيم (719 - 767 هـ = 1319 - 1365 م) برهان الدين، إبراهيم بن محمد بن أبي بكر بن أيوب المعروف بابن قيم الجوزية الحنبلي عالم في النحو، والفقه. مات في صفر بالمزة، ودفن بدمشق. له شرح ألفية ابن مالك، سماه ارشاد السالك إلى حل ألفية ابن مالك نقلا عن «معجم المؤلف...
Ngaji Kitab Al-Hifzh Ahammiyatuhu Ajaibuhu Thariqatuhu Asbabuhu Karya Syekh Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir as-Shaibani (Muqaddimah) Bismillahirrahmanirrahim..., Pengantar Masih jauh dari kata pantas penulis yang masih berkelimangan kepayahan dan lemah ini mengambil posisi sebagai pengantar bagi sebuah karya yang begitu mulia ini, bahkan masih sangat jauh dari kata layak jika harus memposisikan sebagai seorang pembahas, namun apapun itu bagi penulis bukanlah menjadi suatu yang layak pula untuk disesalkan dan menjadi penghalang bagi semangat penulis dalam berihtiar mengupayakan kemampuan semaksimal mungkin untuk sedikit demi sedikit memahami isi dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalam kitab yang mulia ini, dengan selalu memanjatkan puji dan syukur atas karunia yang diberikan Allah SWT. kepada penulis yang fakir ini, yang senantiasa selalu membutuhkan dan akan terus rela dan ridha selamanya menjadi fakir atas pertolongan-pertolongan dan petunjuk-petunjuk Allah ...