Corak
Pemahaman Dan Perilaku Tauhid Masyarakat Indonesia Pra Pelpres 2019
Sebuah Upaya Mendudukkan Gelar Ke-ulama’an-an Sesuai Dengan Kedudukkannya (2)
![]() |
Banyak sekali istilah-istilah atau gelar yang saat ini telah
mengalami penyempitan makna yang ahirnya akan berpengaruh pada pola pemahaman
dan perilaku masyarakat. Penulis akan mencoba satu persatu mendudukkan istilah
yang telah mengalami hal tersebut kepada kedudukan yang semestinya. Adapun diantara
istilah-istilah yang akan penulis bahas adalah: ulama’, mubaligh/da’i dan
tokoh-tokoh pergerakan Islam. Sebelum membahas tentang konsep tauhid dan
pengaruhnya penulis akan terlebih dahulu mencoba untuk mendudukkan
istilah-istilah yang dirasa perlu untuk didudukkan pada kedudukan yang
semestinya.
Ulama’
Kata ‘ulama’ diambil atau diserap dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’العلماء) ) yang artinya adalah orang-orang yang memiliki ilmu, diambil dari bentuk mufrod (العالم) yang artinya adalah seorang 'alim atau yang berilmu.
Sedangkan menurut istilah, ulama’ adalah orang yang memiliki ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah; orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.
Dalam wikipedia disebutkan; Ulama (Arab:العلماء ʿUlamāʾ, tunggal عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.
Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”. Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah:
Ulama’
Kata ‘ulama’ diambil atau diserap dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’العلماء) ) yang artinya adalah orang-orang yang memiliki ilmu, diambil dari bentuk mufrod (العالم) yang artinya adalah seorang 'alim atau yang berilmu.
Sedangkan menurut istilah, ulama’ adalah orang yang memiliki ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah; orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.
Dalam wikipedia disebutkan; Ulama (Arab:العلماء ʿUlamāʾ, tunggal عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.
Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”. Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah:
1.
Orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam
2. Muslim yang memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah)
sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan ''as-Sunnah''
3.
Menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.
Dalam al-Qu’an disebutkan:
وَمِنَ
النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Dan demikian
(pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak
ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha
Pengampun.
: Ayat tersebut
ditafsirkan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A. dalam tafsir al-Misbahnya
Demikian pula
di antara manusia, binatang melata, unta, sapi dan domba terdapat
bermacam-macam bentuk, ukuran dan warnanya pula. Hanya para ilmuwan yang
mengetahui rahasia penciptaanlah yang dapat mencermati hasil ciptaan yang
mengagumkan ini dan membuat mereka tunduk kepada Sang Pencipta. Sesungguhnya
Allah Mahaperkasa yang ditakuti orang-orang Mukmin, Maha Pengampun segala dosa
siapa pun yang berserah diri kepada-Nya. (1). (1) Setelah memaparkan bahwa
berbagai jenis buah-buahan dan perbedaan warna pegunungan itu berasal dari
suatu unsur yang sama--yakni, buah-buahan berasal dari air dan gunung-gunung
berasal dari magma, ayat ini pun menyitir bahwa perbedaan bentuk dan warna yang
ada pada manusia, binatang-binatang melata dan hewan-hewan ternak tidak tampak
dari sperma-sperma yang menjadi cikal bakalnya. Bahkan sekiranya kita
menggunakan alat pembesar sekali pun, sperma-sperma tersebut tampak tidak
berbeda. Di sinilah sebenarnya letak rahasia dan misteri gen dan plasma. Ayat
ini pun mengisyaratkan bahwa faktor genetislah yang menjadikan tumbuh-tumbuhan,
hewan dan manusia tetap memiliki ciri khasnya dan tidak berubah hanya
disebabkan oleh habitat dan makanannya. Maka sungguh benar jika ayat ini
menyatakan bahwa para ilmuwan yang mengetahui rahasia-rahasia penciptaan
sebagai sekelompok manusia yang paling takut kepada Allah.
Ayat tersebut
tidak memberikan keterangan apapun perihal kriteria ulama. Tetapi ulama tafsir
seperti Al-Qasimi mencoba menjelaskan siapa ulama yang dimaksud dalam Surat
Fathir ayat 28 ini.
إنما يخشاه
تعالى بالغيب، العالمون به عز وجل، وبما يليق به من صفاته الجليلية, وأفعاله
الجميلة؛ لما أن مدار الخشية معرفة المخشي والعلم بشؤونه، فمن كان أعلم به تعالى،
كان أخشى منه عز وجل. كما قال عليه الصلاة والسلام أنا أخشاكم لله وأتقاكم له.
Artinya,
“Ulama adalah mereka yang takut kepada Allah meskipun tidak melihat-Nya. Mereka
juga memahami sifat keagungan dan perbuatan baik yang layak bagi-Nya karena
titik tumpu dari rasa takut ini adalah pengenalan atas Zat yang ditakuti dan
mengerti ‘kondisi’-Nya. Orang yang lebih mengenal-Nya, maka ia yang paling
takut kepada-Nya sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Bukari, ‘Aku
orang yang paling takut di antara kamu kepada Allah, dan aku yang paling
bertakwa di antara kalian’,” (Lihat Syekh M Jamaluddin
Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil,
[tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz XIV, halaman 4983).
Syekh M.
Jamaluddin Al-Qasimi juga mengutip Al-Qasyani. Menurutnya, ulama memiliki
banyak tingkatan. Ulama yang dimaksud pada ayat ini adalah ulama yang sampai
pada derajat ma’rifatullah.
Al-Qasyani
juga menambahkan bahwa takut yang dimaksud pada ayat ini bukan takut dalam arti
kengerian dari siksa. Rasa takut yang dimaksud di sini adalah sebentuk perasaan
tunduk dan menyerah ketika membayangkan keagungan Allah dan melalui pengalaman
batin secara sadar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ
طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ
الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ
الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ
فِي اْلأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى
الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا
دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ
وَافِرٍ
Siapa
saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya di
atas salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka
karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan
ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di
dasar lautan. Sesungguhnya keutamaan
seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama
atas seluruh bintang-bintang.
Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para Nabi
tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa
saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar. (HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim,
al-Baihaqi dan Ibn Hibban).
Wallahu a'lam bishawab...,

Komentar
Posting Komentar